|
Khutbah Jum’at dengan menggunakan
bahasa yang tidak difaham, atau sulit difaham oleh mara makmum itu adalah
menyalahi tujuan khutbah yang artinya nasihat, dan perbuatan itu tidak
mencontoh Rasulullah, sebab Rasulullah khutbah memberi nasihat dengan bahasa
yang difaham oleh makmum, sedangkan dia berkhutbah dengan bahasa yang tidak
difaham atau sulit difaham oleh para makmum.
Bahasa Arab yang dipakai oleh
Rasulullah untuk berkhutbah adalah alat untuk menyampaikan nasihat dari hati ke
hati, bukan dari mulut ke telinga.
Sebagai bukti, Rasulullah selalu
memilih bahasa Arab yang enteng, yang ringan untuk difaham, mempersona menarik
perhatian.
Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang, dan pendeknya
(ringkas, jelas) khutbahnya itu adalah tanda akan kecerdasannya, maka
panjangkanlah sembahyang dan dan pendekkanlah khutbah, sesungguhnya “albayan”
kecakapan dalam mengutarakan sesuatu soal itu mempesona, menarik perhatian”.
(Muslim).
Perhatian makmum tidak akan tertarik bila
bahasanya tidak difaham, bahkan apa faidahnya khutbah dibantu dengan
mengeraskan suara, merah mata, keras berangnya, bila bukan untuk difaham dan
untuk difaham dan untuk memberi kesan dalam jiwa para pendengar.
Dan dalam riwayat Muslim diterangkan :
وَيُذَكِّرُ النَّاسَ وَيُحَذِّرُ
“Ia memberi peringatan dan memesankan supaya waspada”.
Dan
dalam hadits riwayat Ahmad diterangkan :
مَنْ تَكَلَّمَ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ
اَسْفَارًا
“Barang siapa yang beromong pada hari Jum’at (tidak mendengarkan
khutbah) padahal imam sedang khutbah, maka ia seperti keledai yang memikul
kitab …”.
Orang
yang mengerti akan khutbah imam, tapi tidak mau mendengarkannya, umpamanya ia
beromong, atau tidur, tidak berbeda dengan orang yang mendengar yang tidak
mengerti akan isi maksudnya. Keduanya sama dengan keledai yang memikul kitab
yang berat, tetapi tidak tahu isi kandungan dan ilmu yang ada dalam kitab itu.
