Home » , » KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA SENDIRI

KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA SENDIRI

Posted by Kata Berjawab on Kamis, 19 Februari 2015


  1. Adakah hadits yang menerangkan bahwa contoh Jum’at itu tidak boleh diterjemahkan dan tidak boleh dengan bahasa lain, sebab khutbah itu adalah termasuk rukun ? H. Noer Hasan, Jombang
Khutbah Jum’at dengan menggunakan bahasa yang tidak difaham, atau sulit difaham oleh mara makmum itu adalah menyalahi tujuan khutbah yang artinya nasihat, dan perbuatan itu tidak mencontoh Rasulullah, sebab Rasulullah khutbah memberi nasihat dengan bahasa yang difaham oleh makmum, sedangkan dia berkhutbah dengan bahasa yang tidak difaham atau sulit difaham oleh para makmum.
Bahasa Arab yang dipakai oleh Rasulullah untuk berkhutbah adalah alat untuk menyampaikan nasihat dari hati ke hati, bukan dari mulut ke telinga.
Sebagai bukti, Rasulullah selalu memilih bahasa Arab yang enteng, yang ringan untuk difaham, mempersona menarik perhatian.
Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang, dan pendeknya (ringkas, jelas) khutbahnya itu adalah tanda akan kecerdasannya, maka panjangkanlah sembahyang dan dan pendekkanlah khutbah, sesungguhnya “albayan” kecakapan dalam mengutarakan sesuatu soal itu mempesona, menarik perhatian”. (Muslim).
Perhatian makmum tidak akan tertarik bila bahasanya tidak difaham, bahkan apa faidahnya khutbah dibantu dengan mengeraskan suara, merah mata, keras berangnya, bila bukan untuk difaham dan untuk difaham dan untuk memberi kesan dalam jiwa para pendengar.
Dan dalam riwayat Muslim diterangkan :
وَيُذَكِّرُ النَّاسَ وَيُحَذِّرُ
“Ia memberi peringatan dan memesankan supaya waspada”.
Dan dalam hadits riwayat Ahmad diterangkan :
مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا
“Barang siapa yang beromong pada hari Jum’at (tidak mendengarkan khutbah) padahal imam sedang khutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab …”.
Orang yang mengerti akan khutbah imam, tapi tidak mau mendengarkannya, umpamanya ia beromong, atau tidur, tidak berbeda dengan orang yang mendengar yang tidak mengerti akan isi maksudnya. Keduanya sama dengan keledai yang memikul kitab yang berat, tetapi tidak tahu isi kandungan dan ilmu yang ada dalam kitab itu.


Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}