1. Betulkah doa iftitah:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ
غَيْرُكَ
tidak boleh
diamalkan sebab hukumnya bidah? Rumaisa –Tasikmalaya-
Doa iftitah yang dibaca setelah takbiratul ihram dalam sembahyang sebelum baca
fatihah yang mempunyai dalil yang sahih, ada beberapa macam, dan kita dapat
memilih mengamalkan salah satu dari antara macam-macam doa iftitah termaksud.
Doa
iftitah yang dikatakan bidah itu sebenarnya bukan bidah, sebab doa iftitah
termaksud dilakukan oleh Sd. Umar pada maqom Rasulullah saw. yakni di jaman
Rasulullah, adakalanya dibaca dengan suara nyaring, bahkan Sd. Umar mngajarkan
doa iftitah termaksud kepada yang lain. Perbuatan sahabat yang dilakukan dengan
setahu Rasulullah saw. bila tidak ditegor, termasuk hadis taqriri, hukumnya
marfu, sama kuatnya dengan hadis yang diucapkan oleh Rasulullah atau yang
dilakukan olehnya, yang dinamakan hadis qauli dan afa’li.
Dalam
kitab Zadul Maad dan Al-Hudan-Nabawi yang dikutip Subulus Salam diterangkan
sebagai berikut:
إِنَّهُ قَدْ صَحَّ
عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ يَسْتَفْتِحُ بِهَ فِي مَقَامِ النَّبِيِّ e
وَيَجْهَرُ بِهِ وَيُعَلِّمُهُ النَّاسَ وَهُوَ بِهذَا الْوَجْهِ فِي حُكْمِ
الْمَرْفُوعِ.
Sesungguhnya
telah diriwayatkan dengan riwayat yang sahih dari Sd. Umar, sesungguhnya beliau
berdoa iftitah termaksud di jaman Rasulullah saw. dan beliau mnjaharkannya
kepada orang-orang, dan hadis itu dengan kenyataan ini, termasuk marfu hadis yang hukumnya.
Adapun
sanadnya ialah, dari Abdurrazaq dari Sufyang Ats-Tsauri dari Mansur bin Al-Mu’tamir
dari Ibrahim An-Nakhai dari Al-Aswad dari Umar ra.
Dan
dalam sanad yang lain dicatat....... dari Ibrahim An-Nakhai dari Al-Aswad dari
umar.
Dalam
Al-Muhalla ditgaskan:
فَهذَا فِعْلُ
عُمَرَ بِحَضْرَةِ الصَّحَابَةِ لاَ مُخَلِّفَ لَهُ مِنْهُمْ
Dan ini
prbuatan Sd. Uma di adapan para sahabat, tidak ada seorang sahabat pun yang
menentangnya.
Karenanya
layak dan beralasan bila Imam Ahmad menyatakan:
أَمَّا أَنَا
فَأَذْهَبُ إِلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ
“Adapun saya
melakukan apa yang diriwayatkan Umar”
Para
sahabat, tabiin dan demikian pula Imam Ahmad memilih doa iftitah termaksud
disebabkan dalilnya sahih, hadis taqriri yang marfu, dan padanya ada beberapa
kelebihan:’
a. Sd. Umar mengajarkan doa
iftitah itu untuk dibaca dalam sembahyang fardu
b. Dilakukan dengan terbuka,
kadang-kadang dijaharkan dan diajarkan serta diterima tanpa ada bantahan atau
sanggahan dari sahabat-sahabat.
c. Sd. Umar termasuk
Al-Asyrah, yakni dari sahabat yang sepuluh yang telah dinyatakan oleh
Rasulullah ahli surga, tidak layak Rasulullah membiarkan beliau melakukan satu
bidah tanpa ditegor.
d. Sd. Umar mendirikan
sembahyang bukan setelah wafat Nabi saw. tapi dari sejak Rasulullah mengajarkan
sembahyang kepadanya. Jadi jelas, perbuatan itu diketahui oleh Rasulullah dan
tidak adanya tegoran dari Rasulullah adalah “ikrar” atas kebenaran perbuatan
itu, yang lazim dinamakan hadis taqriri.
e. Sd. Umar ialah sahabat
yang Rasulullah nyatakan:
إِنِّي لا أَدْرِي
مَا بَقَائِي فِيكُمْ فَاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي وَأَشَارَ إِلَيهما
( أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ )
Sesungguhnya aku tidak tahu berapa lama lagi aku tingga beserta kamu
sekalian, maka itulah mereka berdua setelah aku, lalu Rasulullah menunjuk
kepada Abu Bakar dan Umar
Sabda Rasulullah saw. yang tersebut di atas sangat
bertentangan dengan tuduhan orang sekarang yang mengatakan bahwa umar ahli
bid’ah atau membuat bid’ah seperti tuduhan sebagian orang yang mengatakan Umar
membuat bid’ah tarawih dan bid’ah doa iftitah tersebut.
Doa ifitah termaksud tercatat dalam kitab Muslim,
tapi Muslim tidak mencatat sebagai riwayat, tapi terbawa dengan jalannya sanad,
karnanya kita tidak beristidlal dengan hadis muslim itu, sebab sanadnya
terputus.
Dalam kitab Sunan An-Nasai 2:102, doa iftitah
termaksud diriwayatkan dengan sanad Ali bin Ali dan Abul Mutawakkil dari Abu
Said:
أَنَّ النَّبِيَّ e
كَانَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.
“Maha Suci Engkau wahai
Tuhanku, dengan memuji-Mu (ku mulai salat ini), dan Maha Bahagia nama-Mu, dan
Maha tinggi kemulian-Mu, dan tidak ada sembarang Tuhan yang patutu disembah
selain daripada Engkau”
Dari antara ahli hadis ada yang menyatakan bahwa
hadis tersebut lemah karena pada sanadnya ada orang yang bernama Ali bin Ali.
Ada yang mencela tanpa alasan, dan ada juga yang mencela karena ia dituduh
membicarakan kadar (liqaulihi bil qodari), tetapi tetap diakui kejujurannya.
Hadis dari golongan ahli id’ah bisa diterima bila
dia tsiqoh jujur, dapat dipercaya dengan catatan isi hadisnya tidak mengajak
kepada bid’ah, karenanya Ali bin Ali dipakai olh Abu Daud, At-Tirmidzi,
An-Nasai dan Ibnu Majah, dan riwayat hadis di atas dinyatakan oleh Ibnu
Khuzaimah bahwa hadis Abu Said ini paling baik sanadnya.
Adapun doa iftitah yang berdasarkan hadis paling
kuat, yaitu riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan An-Nasai.
اللَّهُمَّ بَاعِدْ
بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ,
اَللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ
الدَّنَسِ, اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ. رواه
السبعة
“Wahai Tuhanku, jauhkan aku
(di masa mendatang) dari kesalahanku sebagaimana Engkau Tuhan telah menjauhkan
antara Masyriq dan maghrib. Wahai Tuhanku, bersihkanlah aku dari
kesalahan-kesalahanku (pada waktu yang sedang dipakai) seperti dibersihkannya
(dijaga kebersihan) baju yang putih dari segala kotoran. Wahai tuhanku, cucilah
aku dari kesalahan-kesalahanku (dimasa lampau) dengan air, dengan salju, dam
dengan air ibnu (dengan sebersih-bersihnya)” (H.r. As-Sab’ah)
Dan ada doa iftitah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud,
At-Tirmidzi dan An-Nasai dari Sd. Ali yaitu, Wajjahti wajhiya.... yang
paling banyak dibaca dinegeri kita, akan tetapi sayang tidak dibaca tamat,
kebanyakan orang membaca hingga .....wa ana minal muslimin, padahal
masih ada sambungannya.
Dalam kitab Muslim ditulis sebagai berikut
1. وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
2. إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
3. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا
مِنَ الْمُسْلِمِينَ
4. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
أَنْتَ
5. أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ
6. ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي
فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا
7. إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَ أَنْتَ
8. وَاهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي
ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ
9. وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي
سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ
10. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ
11. وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ
لَيْسَ إِلَيْكَ
12. أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ
13. أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
1. Aku hadapkan mukaku
kepada tuhan pncipta langit-langit dan bumi dengan ikhlas dan aku bukan dari
golongan musyrikin
2. Sesungguhnya
sembahyangku, dan ibadahku, hidupku dan matiku semuanya karena Allah pengurus
sekalian alam
3. Tidak ada sembarang
sekutu baginya, dan dengan demikian aku diperintah dan aku dari golongan
muslimin
4. Wahai Tuhanku Engkaulah
Raja, tidak ada sembarang Tuhan kecuali Engkau
5. Engkau pemimpinku dan aku
hamba-Mu
6. Aku telah zalim terhadap
diriku, dan aku mengakui atas dosaku, maka ampunkanlah dosaku seluruhnya
7. Sesungguhnya tidak ada
yang mengampunkan dosa kecuali Engkau
8. Dan tunjukkanlah aku
kepada akhlaq yang paling baik, tidak ada yang menunjukkan kepadanya kecuali
Engkau
9. Dan palingkanlah dari
padaku akhlak yang jahat tidak ada yang memalingkannya kecuali Engkau
10. Aku terus-menerus menaati
perintah-Mu dan terus menurut, aku bahagia karena perintah-Mu
11. Dan segala kebaikan ada
pada tangan Engkau dan kejahatah tidak layak ditudingkan kepada Engkau
12. Segala gerak aku dengan
pertolongan Engkau, dan segala ibadahku untuk-Mu, bertambah-tambah berkah
kebaikan-Mu dan Engkau Maha Tinggi
13. Aku minta ampun kepada
Engkau dan aku taubat kepada Engkau.
