Home » » BACAAN DOA IFTITAH

BACAAN DOA IFTITAH

Posted by Kata Berjawab on Kamis, 19 Februari 2015


1. Betulkah doa iftitah:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
tidak boleh diamalkan sebab hukumnya bidah? Rumaisa –Tasikmalaya-

Doa iftitah yang dibaca setelah takbiratul ihram dalam sembahyang sebelum baca fatihah yang mempunyai dalil yang sahih, ada beberapa macam, dan kita dapat memilih mengamalkan salah satu dari antara macam-macam doa iftitah termaksud.
Doa iftitah yang dikatakan bidah itu sebenarnya bukan bidah, sebab doa iftitah termaksud dilakukan oleh Sd. Umar pada maqom Rasulullah saw. yakni di jaman Rasulullah, adakalanya dibaca dengan suara nyaring, bahkan Sd. Umar mngajarkan doa iftitah termaksud kepada yang lain. Perbuatan sahabat yang dilakukan dengan setahu Rasulullah saw. bila tidak ditegor, termasuk hadis taqriri, hukumnya marfu, sama kuatnya dengan hadis yang diucapkan oleh Rasulullah atau yang dilakukan olehnya, yang dinamakan hadis qauli dan afa’li.
Dalam kitab Zadul Maad dan Al-Hudan-Nabawi yang dikutip Subulus Salam diterangkan sebagai berikut:
إِنَّهُ قَدْ صَحَّ عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ يَسْتَفْتِحُ بِهَ فِي مَقَامِ النَّبِيِّ e وَيَجْهَرُ بِهِ وَيُعَلِّمُهُ النَّاسَ وَهُوَ بِهذَا الْوَجْهِ فِي حُكْمِ الْمَرْفُوعِ.
Sesungguhnya telah diriwayatkan dengan riwayat yang sahih dari Sd. Umar, sesungguhnya beliau berdoa iftitah termaksud di jaman Rasulullah saw. dan beliau mnjaharkannya kepada orang-orang, dan hadis itu dengan kenyataan ini, termasuk  marfu hadis yang hukumnya.
Adapun sanadnya ialah, dari Abdurrazaq dari Sufyang Ats-Tsauri dari Mansur bin Al-Mu’tamir dari Ibrahim An-Nakhai dari Al-Aswad dari Umar ra.
Dan dalam sanad yang lain dicatat....... dari Ibrahim An-Nakhai dari Al-Aswad dari umar.
Dalam Al-Muhalla ditgaskan:
فَهذَا فِعْلُ عُمَرَ بِحَضْرَةِ الصَّحَابَةِ لاَ مُخَلِّفَ لَهُ مِنْهُمْ
Dan ini prbuatan Sd. Uma di adapan para sahabat, tidak ada seorang sahabat pun yang menentangnya.
Karenanya layak dan beralasan bila Imam Ahmad menyatakan:
أَمَّا أَنَا فَأَذْهَبُ إِلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ
“Adapun saya melakukan apa yang diriwayatkan Umar”
Para sahabat, tabiin dan demikian pula Imam Ahmad memilih doa iftitah termaksud disebabkan dalilnya sahih, hadis taqriri yang marfu, dan padanya ada beberapa kelebihan:’
a.       Sd. Umar mengajarkan doa iftitah itu untuk dibaca dalam sembahyang fardu
b.      Dilakukan dengan terbuka, kadang-kadang dijaharkan dan diajarkan serta diterima tanpa ada bantahan atau sanggahan dari sahabat-sahabat.
c.       Sd. Umar termasuk Al-Asyrah, yakni dari sahabat yang sepuluh yang telah dinyatakan oleh Rasulullah ahli surga, tidak layak Rasulullah membiarkan beliau melakukan satu bidah tanpa ditegor.
d.      Sd. Umar mendirikan sembahyang bukan setelah wafat Nabi saw. tapi dari sejak Rasulullah mengajarkan sembahyang kepadanya. Jadi jelas, perbuatan itu diketahui oleh Rasulullah dan tidak adanya tegoran dari Rasulullah adalah “ikrar” atas kebenaran perbuatan itu, yang lazim dinamakan hadis taqriri.
e.       Sd. Umar ialah sahabat yang Rasulullah nyatakan:
إِنِّي لا أَدْرِي مَا بَقَائِي فِيكُمْ فَاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي وَأَشَارَ إِلَيهما ( أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ )
Sesungguhnya aku tidak tahu berapa lama lagi aku tingga beserta kamu sekalian, maka itulah mereka berdua setelah aku, lalu Rasulullah menunjuk kepada Abu Bakar dan Umar
Sabda Rasulullah saw. yang tersebut di atas sangat bertentangan dengan tuduhan orang sekarang yang mengatakan bahwa umar ahli bid’ah atau membuat bid’ah seperti tuduhan sebagian orang yang mengatakan Umar membuat bid’ah tarawih dan bid’ah doa iftitah tersebut.
Doa ifitah termaksud tercatat dalam kitab Muslim, tapi Muslim tidak mencatat sebagai riwayat, tapi terbawa dengan jalannya sanad, karnanya kita tidak beristidlal dengan hadis muslim itu, sebab sanadnya terputus.
Dalam kitab Sunan An-Nasai 2:102, doa iftitah termaksud diriwayatkan dengan sanad Ali bin Ali dan Abul Mutawakkil dari Abu Said:
أَنَّ النَّبِيَّ e كَانَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.
“Maha Suci Engkau wahai Tuhanku, dengan memuji-Mu (ku mulai salat ini), dan Maha Bahagia nama-Mu, dan Maha tinggi kemulian-Mu, dan tidak ada sembarang Tuhan yang patutu disembah selain daripada Engkau”
Dari antara ahli hadis ada yang menyatakan bahwa hadis tersebut lemah karena pada sanadnya ada orang yang bernama Ali bin Ali. Ada yang mencela tanpa alasan, dan ada juga yang mencela karena ia dituduh membicarakan kadar (liqaulihi bil qodari), tetapi tetap diakui kejujurannya.
Hadis dari golongan ahli id’ah bisa diterima bila dia tsiqoh jujur, dapat dipercaya dengan catatan isi hadisnya tidak mengajak kepada bid’ah, karenanya Ali bin Ali dipakai olh Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah, dan riwayat hadis di atas dinyatakan oleh Ibnu Khuzaimah bahwa hadis Abu Said ini paling baik sanadnya.
Adapun doa iftitah yang berdasarkan hadis paling kuat, yaitu riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan An-Nasai.
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ, اَللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ, اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.   رواه السبعة
“Wahai Tuhanku, jauhkan aku (di masa mendatang) dari kesalahanku sebagaimana Engkau Tuhan telah menjauhkan antara Masyriq dan maghrib. Wahai Tuhanku, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku (pada waktu yang sedang dipakai) seperti dibersihkannya (dijaga kebersihan) baju yang putih dari segala kotoran. Wahai tuhanku, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku (dimasa lampau) dengan air, dengan salju, dam dengan air ibnu (dengan sebersih-bersihnya)” (H.r. As-Sab’ah)
Dan ada doa iftitah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasai dari Sd. Ali yaitu, Wajjahti wajhiya.... yang paling banyak dibaca dinegeri kita, akan tetapi sayang tidak dibaca tamat, kebanyakan orang membaca hingga .....wa ana minal muslimin, padahal masih ada sambungannya.
Dalam kitab Muslim ditulis sebagai berikut
1.      وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
2.      إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
3.      لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
4.      اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
5.       أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ
6.      ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا
7.      إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَ أَنْتَ
8.      وَاهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ
9.      وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ
10.  لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ
11.  وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ
12.  أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ
13.  أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
1.      Aku hadapkan mukaku kepada tuhan pncipta langit-langit dan bumi dengan ikhlas dan aku bukan dari golongan musyrikin
2.      Sesungguhnya sembahyangku, dan ibadahku, hidupku dan matiku semuanya karena Allah pengurus sekalian alam
3.      Tidak ada sembarang sekutu baginya, dan dengan demikian aku diperintah dan aku dari golongan muslimin
4.      Wahai Tuhanku Engkaulah Raja, tidak ada sembarang Tuhan kecuali Engkau
5.      Engkau pemimpinku dan aku hamba-Mu
6.      Aku telah zalim terhadap diriku, dan aku mengakui atas dosaku, maka ampunkanlah dosaku seluruhnya
7.      Sesungguhnya tidak ada yang mengampunkan dosa kecuali Engkau
8.      Dan tunjukkanlah aku kepada akhlaq yang paling baik, tidak ada yang menunjukkan kepadanya kecuali Engkau
9.      Dan palingkanlah dari padaku akhlak yang jahat tidak ada yang memalingkannya kecuali Engkau
10.  Aku terus-menerus menaati perintah-Mu dan terus menurut, aku bahagia karena perintah-Mu
11.  Dan segala kebaikan ada pada tangan Engkau dan kejahatah tidak layak ditudingkan kepada Engkau
12.  Segala gerak aku dengan pertolongan Engkau, dan segala ibadahku untuk-Mu, bertambah-tambah berkah kebaikan-Mu dan Engkau Maha Tinggi
13.  Aku minta ampun kepada Engkau dan aku taubat kepada Engkau.


Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}