Home » » SHALAT JUM’AT KHUSUS WANITA

SHALAT JUM’AT KHUSUS WANITA

Posted by Kata Berjawab on Kamis, 19 Februari 2015


  1. Boleh kaum muslimat mendirikan shalat Jum’at sendiri, dengan khatib serta imamnya dari kalangan mereka ? Mohd. Chusnan, Munilan
Shalat Jum’at tidak diperintahkan kepada kaum wanita.
Ibnu Rusyd (520 h – 595 h), penulis kitab “Bid’atu‘lMujatahid” yang membicarakan masalah-masalah syara yang diperselisihkan, tidak mencatat pada zaman beliau, perselisihan dalam kalangan umat Islam, berkenaan dengan wajib kaum wanita bershalat Jum’at. Hal itu menyatakan, bahwa sejak zaman Rasulullah hingga zaman Ibnu Rusyd itu, tidak perselisihan, bahwa pada hari Jum’at bagi kaum wanita itu tidak ada ubahnya seperti pada hari-hari yang lain yakni bershalat zhuhur.
Bila pada zaman Ibnu Rusyd, keadaannya seperti itu, maka tentulah pada zaman Rasulullah pun tidak ada wanita yang mengadakan shalat Jum’at tersendiri, sebab yang melakukannya bersama kaum priapun ternyata tidak diperintahkan.
Bila ada kaum wanita mendirikan shalat Jum’at tersendiri, dengan khathib serta imam di kalangan mereka sendiri, maka perbuatan itu ialah peribadahan yang tidak berdasarkan perintah dan contoh Rasulullah. Dan hal itu, dalam hadits, tegas dinyatakan :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amal yang tidak seperti itu kami perintahkan, maka perbuatan itu ditolak”. H.Sh.R. Bukhari.
Dalam qaidah ushul fiqih, terdapat ketentuan :
إِنَّ مَا تَرَكَهُ النَّبِيُّ ص وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللُه عَنْهُمْ مَعَ وُجُوْدِ سَبَبِهِ وَدَاعِيَتِهِ فَتَرَكَهُ إِيَّاهُ إِجْمَاعٌ عَلَى أَنَّهُ غَيْرُ مَشْرُوْعٍ وَلاَ جَائِزٍ فِى الدِّيْنِ.
“Sesungguhnya apa-apa yang tidak diperbuat Rasulullah s.a.w. dan para shahabat r.a., padahal sebab dan dalih akannya ada, maka hal itu adalah suatu dalil bahwa yang ditinggalkan beliau itu adalah perbuatan yang tidak disyariatkan, tidak boleh diamalkan”.
Oleh karena shalat Jum’at khusus wanita itu, ialah urusan ibadah, yang mesti mempunyai cara dan ketentuan yang telah ditetapkan syariat, tapi ternyata syar’i tidak mensyari’atkannya, bila dilakukan hukumnya adalah bid’ah.


Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}