Home » » BACAAN DOA IFTITAH YANG BENAR

BACAAN DOA IFTITAH YANG BENAR

Posted by Kata Berjawab on Kamis, 19 Februari 2015


DOA IFTITAH YANG BENAR

  1. Dalam doa iftitah yang di mulai dengan wajjatahtu...dst, ada terdapat ....hainafan wa ma ana ...,tapi ada pula yang memakai ...hanifam musliman. Mana yang benar? Emor Komarudin –Garut-

Dalam iftitah yang di mulai dengan wajjatahtu wajhiya...dst, adalah dari riwayat Ali ra. Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, At-tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan ringkas.
Dalam lafad dan kalimatnya ada sedikit perbedaan. Umpamanya dalam riwayat Muslim diterangkan “Hanifan wa ma ana minal musyrikin”, sedangkan di dalam riwayat Abu Daud diterangkan “hanifan musliman wa a ana minal musyrikin”. Kemudin dalam riwayat lain diterangkan “w ana minal muslimin” dan ada pula yang lainnya meriwayatkan “wa ana awwalul muslimin”.
Riwayat-riwayat tersebut kesemuanya adaah sahih serta isinya pun tidak bertentangan. Oleh karena itu tidaklah kita dapat menyalahkan orang yang membaca salah satu dari macam-macam lafad tersebut.
Akan tetapi sebagaimana kita maklumi, bahwasanya penyelidikan ahli hadis menetapkan hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim adalah pada tingkat yang tertinggi, kemudian tingkat yag kedua ialah riwayat yang hanya diriwayatkan oleh Bukhari saja, dan yang ketiga berikutnya ialah yang hanya ririwayatkan oleh Muslim sahaja.. Dan dalam hal ini hadis Muslim adalah yang tertinggi derajatnya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila ahli-ahli hadis memilih lafad yang diriwayatkan oleh Muslim. Sahih Muslim I:311)

 ALLAHUMMA NAQQINIMINADZ-DZUNUBI

  1. Saya baca doa iftitah yang dimuat dalam Risalah no.118, berbeda dengan yang saya hafal, yaitu ada tambahan “Minadz-dzunubi”, yakni “Allahumma naqqini minadz-dzunubi wal khothoya”, adapun yang dimuat dalam risalah tersebut “Allahumma naqqini min khothoyaya....”, apakah ada beberapa macam lafaznya? A’simah

Doa iftitah yang permulaannya “Allahumma baid baini wabaina...”yang dimuat dalam risalah no.118 sebagai berikut:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ, اَللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ, اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.
Doa tersebut tersusun dari tiga “Allahumma”, pertama, Allahumam baid....., yang kedua,”Allahumam naqqini....”, yang ketiga,”Allahummaghsil...”, demikian urutannya.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 1:136, Muslim 1:241, Abu Daud 1:207, An-Nasai 1:129, Musnad Ahmad 2:281, Ibnu Majah 1:260, dari Abu Hurairah.
Dalam semua riwayat tersebut, tidak terdapat tambahan “dzunubi” dalam semua riwayat sama, yaitu, “Allahumma naqqini minkhothoyaya”, kecuali dalam Al-Bukhari ditulis “minal Khothoya”.
Dengan ini kami nyatakan bahwa yang ditulis dalam risalah itu tidak salah tukil, memang demikian lafad dan tertibnya.


Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}