DOA IFTITAH YANG BENAR
- Dalam doa iftitah yang di mulai dengan wajjatahtu...dst, ada terdapat ....hainafan wa ma ana ...,tapi ada pula yang memakai ...hanifam musliman. Mana yang benar? Emor Komarudin –Garut-
Dalam
iftitah yang di mulai dengan wajjatahtu wajhiya...dst, adalah dari riwayat Ali
ra. Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, At-tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan
ringkas.
Dalam
lafad dan kalimatnya ada sedikit perbedaan. Umpamanya dalam riwayat Muslim
diterangkan “Hanifan wa ma ana minal musyrikin”, sedangkan di dalam riwayat Abu
Daud diterangkan “hanifan musliman wa a ana minal musyrikin”. Kemudin dalam
riwayat lain diterangkan “w ana minal muslimin” dan ada pula yang lainnya
meriwayatkan “wa ana awwalul muslimin”.
Riwayat-riwayat
tersebut kesemuanya adaah sahih serta isinya pun tidak bertentangan. Oleh karena
itu tidaklah kita dapat menyalahkan orang yang membaca salah satu dari
macam-macam lafad tersebut.
Akan
tetapi sebagaimana kita maklumi, bahwasanya penyelidikan ahli hadis menetapkan
hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim adalah pada tingkat yang tertinggi,
kemudian tingkat yag kedua ialah riwayat yang hanya diriwayatkan oleh Bukhari
saja, dan yang ketiga berikutnya ialah yang hanya ririwayatkan oleh Muslim
sahaja.. Dan dalam hal ini hadis Muslim adalah yang tertinggi derajatnya. Oleh
karena itu tidaklah mengherankan bila ahli-ahli hadis memilih lafad yang
diriwayatkan oleh Muslim. Sahih Muslim I:311)
ALLAHUMMA NAQQINIMINADZ-DZUNUBI
- Saya baca doa iftitah yang dimuat dalam Risalah no.118, berbeda dengan yang saya hafal, yaitu ada tambahan “Minadz-dzunubi”, yakni “Allahumma naqqini minadz-dzunubi wal khothoya”, adapun yang dimuat dalam risalah tersebut “Allahumma naqqini min khothoyaya....”, apakah ada beberapa macam lafaznya? A’simah
Doa
iftitah yang permulaannya “Allahumma baid baini wabaina...”yang dimuat dalam
risalah no.118 sebagai berikut:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ
بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ,
اَللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ
الدَّنَسِ, اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.
Doa tersebut tersusun dari tiga “Allahumma”,
pertama, Allahumam baid....., yang kedua,”Allahumam naqqini....”, yang
ketiga,”Allahummaghsil...”, demikian urutannya.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 1:136, Muslim 1:241,
Abu Daud 1:207, An-Nasai 1:129, Musnad Ahmad 2:281, Ibnu Majah 1:260, dari Abu
Hurairah.
Dalam semua riwayat tersebut, tidak terdapat
tambahan “dzunubi” dalam semua riwayat sama, yaitu, “Allahumma naqqini minkhothoyaya”, kecuali dalam Al-Bukhari ditulis “minal Khothoya”.
Dengan ini kami nyatakan bahwa yang ditulis dalam
risalah itu tidak salah tukil, memang demikian lafad dan tertibnya.
