Home » , » SALAWAT DI PERMULAAN KHUTBAH

SALAWAT DI PERMULAAN KHUTBAH

Posted by Kata Berjawab on Kamis, 19 Februari 2015

SALAWAT DI PERMULAAN KHUTBAH
  1. Ditempat saya pernah terjadi sembahyang Jum’at mesti diulangi, dikarenakan khatib dalam tahmid khutbahnya tidak baca salawat. Beralasankah pendirian yang seperti itu? Lien Amalina – Bandung

Rasulullah s.a.w., telah memberi contoh tahmid, yang lazim disebut – khutbatulhajjah -, biasa dibaca dalam permulaan khutbah Jum’ah dan khutbah yang lainnya, seperti yang sering kita baca atau kita dengar, yaitu tahmid dimulai dengan : Alhamdu lillahi nahmaduhu wanasta’inuhu ……….. padanya tidak ada salawat.

Tahmid seperti itu biasa ditulis dalam permulaai kitab-kitab pakai salawat sebagaimana yang kita temukan, tapi kitab bukhari, Almuawatha dan kitab sebelum kerajaanb Abbasyaih, tidak di tulis shalawat padanya.

Abu’lBaqa dalam kulliyatnya menerangkan :

إِنَّ كِتَابَةَ الصَّلاَةِ فِى أَوَائِلِ الْكُتُبِ قَدْ حَدَثَتْ فِى اثْنَاءِ دَوْلَةِ اْلعَبَّاسِيَةِ وَلِهَذَا وَقَعَ فِى كِتَابِ اْلبُخَارِىُ وَغَيْرِهِ غَارٍ عَنْهَا, وَأَنَّ كِبَارَ اْلمُحَدِّثِيْنَ لَمْ يَكُوْنُوْا يَكْتُبُوْنَ الصَّلاَةَ فِى أَوَاِئلِ كُتُبِهِ (حباة محمد

Sesungguhnya menulis shalawat pada permualaan kitab-kitab terjadi pada pertengahan zaman kerajaan Abbasyiah, karenanya ternyata dalam kitab Albukhari dan lain-lainnya tida ada shalawat pada permualaannya, demikian pula pada kitab-kitab lain, dan para ahli hadits yang besar, mereka tidak menulis shalawat pada permulaan kitabnya.

Dalam kitab Fat-hu Bari, 1 : 5 diterangkan :

Kemungkinan yang berkata demikian, dikarenakan mereka melihat karangan imam-imam dari guru-guru Imam AlBukhari, seperti imam Maliki dalam Muwatha, Abdurrazaq dalam Mushannaf,…………….
فِى ابْتِدَاءِ تَصْنِيْفِهِ وَلَمْ يَزِدْ عَلَى الْبَسْمَلَةِ وَهُوَ اْلاَكْثَرُ وَالْقَلِيْلُ مِنْهُمْ مَنِ افْتَتَحَ كِتَابَهُ بِخُطْبَةٍ حَمِدَ وَتَشَهَّدَ كَمَا صَنَعَ مُسْلِمٌ.

Pada permulaan karangannya (tidak pakai shalawat) damn tidak lebih dari pada basmalah, dan itulah yang terbanyak, yaitu tahmid dan dua kalimah syahadat.

Oleh karena Rasulullah s.a.w., tidak membaca shalawat dalam tahmidnya pada permulaan khutbah, maka tidak ada alasan untuk mngatakan sembahyang Jum’ah tidak syah karena tahmidnya tanpa shalawat ; Adapun isi khutbahyang diucapkan setelah “Amma ba’du”, pada umumnya tidak akan sepi dari sebutan nama nabi, yang padanya tentu disambung dengan membaca shalawat kepadanya.

Dalam kitab Almuhadzdzab, menganjurkan agar dalam khutbah baca shalawat, tapi padanya tidak ditegaskan mesti dalam tahmid pembukaan khutbah, padanya dijelaskan, tiap ibadah yang memerlukan dzikir (atau menyebut nama Allah) tentu perlu menyebut nama Muhammad. (I:112).


Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}